Pengelompokan berdasarkan kemampuan (ability grouping) dan dampaknya bagi peserta didik

Authors

  • Risdiyanto SMA Alfa Centauri

DOI:

https://doi.org/10.17509/jik.v18i1.36405

Keywords:

ability grouping, metode pembelajaran, pembelajaran

Abstract

Pengelompokan siswa di sekolah berdasarkan kemampuan siswa atau prestasi masa lalu telah dibahas sejak lama tetapi masih relevan dengan konteks pendidikan saat ini. Sistem seperti itu telah dipromosikan oleh beberapa peneliti pendidikan karena manfaatnya bagi siswa dan guru. Di antara manfaatnya adalah efektivitas pengajaran mengingat guru akan memiliki siswa dengan kecepatan belajar yang homogen dan memungkinkan sekolah untuk memberikan dukungan yang lebih baik bagi siswa yang berkemampuan lebih rendah. Di sisi lain, para ahli lain menentang metode tersebut dengan menyarankan bahwa itu akan mempromosikan segregasi sosial dan menurunkan motivasi siswa dengan prestasi masa lalu yang lebih rendah karena mereka tidak akan memiliki kesempatan untuk melihat ke rekan-rekan mereka yang lebih baik yang duduk di kelas yang sama. Artikel ulasan ini akan merangkum pemahaman terkini tentang masalah ini baik dari sudut pandang, pro dan kontra.

References

Afandi, M. (2013). Model dan metode pembelajaran di sekolah. UNISSULA Press.

Andra, N. (2019). Penerapan model pembelajaran ability grouping sebagai upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran mekanika teknik kelas X teknik sipil SMK Negeri 5 Surakarta. Pai, 5(2), 87–92.

Arfani, L. (2016). Mengurai hakikat pendidikan, belajar dan pembelajaran. Pelita Bangsa Pelestari Pancasila, 11(2), 81–97. Retrieved from https://pbpp.ejournal.unri.ac.id/index.php/JPB/article/view/5160

Asyafah, A. (2019). Menimbang model pembelajaran (Kajian teoretis-kritis atas model pembelajaran dalam pendidikan Islam). TARBAWY: Indonesian Journal of Islamic Education, 6(1), 19–32. https://doi.org/10.17509/t.v6i1.20569

Banks, J. A. (2007). Educating citizens in a multicultural society. Teachers College Columbia University.

Berisha, A., & Seppanen, P. (2016). Pupil selection segments urban comprehensive schooling in Finland: Composition of school classes in pupils' school performance, gender and ethnicity. Scandinavian Journal of Educational Research.

Cheung, C., & Rudowicz, E. (2003). Academic outcomes of ability grouping among junior high school students in Hong Kong. The Journal of Educational Research, 96(4), 241-256.

Chisaka, B. C., & Vakalis, N. C. G. (2003). Some effects of ability grouping in Harare secondary schools: A case study. South African Journal of Education, 23(3), 176–180.

Danial, D., & Wasriah, W. (2009). Metode penulisan karya ilmiah. Laboratorium Pendidikan Kewarganegaraan UPI.

Daryanto. (2005). Evaluasi pendidikan. Rineka Cipta.

Gamoran, A. (2001). American schooling and educational inequity: A forecast for the 21st Century. Science, 135(3503), 554–555.

Hanushek, E. A., & Wobmann, L. (2006). Does educational tracking affect performance and inequality. The Economic Journal, 63-76.

Hornby, G., Witte, C., & Mitchell, D. (2011). Policies and practices of ability grouping in New Zealand intermediate schools. Support for Learning, 26(3), 92-96.

Imron, A. (2012). Manajemen peserta didik berbasis sekolah. Bumi Aksara.

Ireson, J., Hallam, S., & Hurley, C. (2005). What are the effects of ability grouping on GCSE attainment? British Educational Research Journal, 443-458.

Johnson, D. W., & Johnson, R. T. (1991). Learning together and alone. Allyn and Bacon.

Komalasari, K. (2010). Pembelajaran kontekstual konsep dan aplikasi. Refika Aditama.

Kulik, J. A., & Kulik, C.-L. C. (1987). Effect of ability grouping on student achievement. Equity & Excellence in Education, 22-30.

Liu, W. C., Wang, C., & Perkins, E. (2005). A longitudinal study of students' academic self-concept in a streamed-setting: The Singapore context. British Journal of Educational Psychology, 567-586.

Lou, Y. (1996). Within-class grouping: A meta analysis. Review of Educational Research, 423-458.

Loveless, T. (1998, August). Making sense of the tracking and ability grouping debate. Cambridge, USA.

Loveless, T. (2009). Tracking and detracking: High achievers in Massachusetts middle school. Thomas B. Fordham Institute.

Nurkholis. (2013). Pendidikan dalam upaya memajukan teknologi. 1(1), 24–44.

O. Adodo, S., & Agbaweya, J. O. (2011). Effect of homogenous and heterogeneous ability grouping class teaching on student's interest, attitude and achievement in integrated science. International Journal of Psychology and Counselling, 3(3), 48-54.

Pane, A., & Darwis Dasopang, M. (2017). Belajar dan pembelajaran. FITRAH: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Keislaman, 3(2), 333. https://doi.org/10.24952/fitrah.v3i2.945

Riyana, C. (2008). Modul komponen pembelajaran. Direktori UPI.

Slavin, R. E. (1990). Achievement effects of ability grouping in secondary school: A best-evidence synthesis. Review of Educational Research, 471-499.

Steenbergen-Hu, S., Makel, M. C., & Olszewski-Kubilius, P. (2016). What one hundred years of research says about the effects of ability grouping and acceleration on K-12 students' achievement. Review of Educational Research, 1-51.

Sykrawi. (2011). Pola pengelompokan siswa baru: Study kasus di Madrasah Ibtidaiyah Bustanuk Ulum Sumber Anyar Rowo Kangkung Lumajang. Retrieved from http://digilib.uinsbyac.id/9270/

Ubabuddin. (2019). Jurnal edukatif. Jurnal Edukatif, V(1), 18–27.

Published

2021-02-19

How to Cite

Risdiyanto, R. (2021). Pengelompokan berdasarkan kemampuan (ability grouping) dan dampaknya bagi peserta didik. Inovasi Kurikulum, 18(1), 73-81. https://doi.org/10.17509/jik.v18i1.36405

Most read articles by the same author(s)

Similar Articles

1-10 of 243

You may also start an advanced similarity search for this article.