Analisis relevansi desain kurikulum pelatihan guru PAI MTs dengan kebutuhan kompetensi guru di lapangan

Authors

  • Adimin Diens

DOI:

https://doi.org/10.17509/jik.v6i1.35685

Keywords:

kebutuhan kompetensi, kurikulum pelatihan, relevansi

Abstract

Lemahnya efektivitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam menjadi permasalahan yang cukup serius. Selama ini telah terjadi anggapan negatif terhadap pelaksanaan pendidikan agama di sekolah. Persoalan kompetensi guru madrasah merupakan permasalahan yang dihadapi hampir seluruh madrasah di tanah air tidak terkecuali Madrasah Tsanawiyah dan secara spesifik guru Pendidikan Agama Islam. Upaya peningkatan kompetensi guru Pendidikan Agama Islam pada madrasah dapat dilakukan melalui jalur pendidikan prajabatan (pre-service training) maupun pendidikan dalam jabatan (in-service training). Secara umum pendidikan dan pelatihan ini di samping untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, juga diarahkan untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan, baik tuntutan masyarakat maupun keniscayaan global. Program-program pelatihan yang ditawarkan paling tidak dapat mengakomodasi standar-standar kompetensi minimal sehingga terdapat relevansi antara kebutuhan-kebutuhan di lapangan dan program pendidikan dan pelatihan. Untuk itu Balai Diklat Keagamaan dalam mengelola dan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan harus sesuai dengan kebutuhan unit pelaksana teknis di lingkungan Departemen Agama. Untuk kepentingan tersebut, kurikulum pelatihan Balai Diklat Keagamaan semestinya memiliki relevansi dengan kebutuhan lapangan. Kesesuaian antara kurikulum pelatihan dengan kebutuhan unit-unit pelaksana teknis di lapangan akan memberikan beberapa keuntungan di antaranya pertama, hasil pelatihan akan lebih bermakna bagi peserta pelatihannya karena kurikulum diklat didesain mengacu pada kebutuhan riil yang berhubungan dengan tugas dan fungsi unit pelaksana teknis. Kedua, penyelenggaraan kegiatan pelatihan lebih efektif karena akan lebih memotivasi peserta pelatihan untuk meningkatkan kompetensi sesuai dengan bidang tugasnya. Ketiga, penyelenggaraan pelatihan lebih efisien, karena kurikulum pelatihan dirancang memang untuk memenuhi kebutuhan tertentu.

 

References

Azizy, A. Q. (2002). Pendidikan (agama) untuk membangun etika sosial. Aneka Ilmu.

Badan Standar Nasional Pendidikan. (2007). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 16 Tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru. BSNP.

Blank, W. E. (1982). Handbook for developing competency-based training programs. Prentice-Hall.

Departemen Agama RI. (2007a). Desain program diklat berjenjang tingkat dasar bagi guru Madrasah Tsanawiyah di lingkungan Departemen Agama. Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan.

Departemen Agama RI. (2007b). Desain program diklat berjenjang tingkat lanjutan bagi guru Madrasah Tsanawiyah di lingkungan Departemen Agama. Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan.

Hamalik, O. (2006). Implementasi kurikulum. Universitas Pendidikan Indonesia.

Noer, I. H. M. (2001). Model pelatihan guru dalam menerapkan kurikulum bahasa Inggris. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 7(030), 1–14.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan. (2005).

Print, M. (1993). Curriculum development and design (2nd ed.). Allen & Unwin.

Sudjana, D. (2006). Pendidikan dan pelatihan. In M. Ali, R. Ibrahim, N. S. Sukmadinata, D. Sudjana, & W. Rasjidin (Eds.), Ilmu dan aplikasi pendidikan (Handbook, pp. 1325–1350). Pedagogiana Press.

Tyler, R. W. (1949). Basic principles of curriculum and instruction. University of Chicago Press.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. (2003).

Zais, R. S. (1976). Curriculum: Principles and foundations. Harper & Row.

Published

2009-02-20

How to Cite

Diens, A. (2009). Analisis relevansi desain kurikulum pelatihan guru PAI MTs dengan kebutuhan kompetensi guru di lapangan. Inovasi Kurikulum, 6(1), 30-45. https://doi.org/10.17509/jik.v6i1.35685

Similar Articles

51-60 of 92

You may also start an advanced similarity search for this article.